
Peristiwa Isra’ Mi‘raj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Ia bukan sekadar kisah perjalanan luar biasa yang melampaui logika manusia, tetapi sebuah peristiwa sarat makna spiritual yang hingga hari ini menjadi sumber kekuatan iman bagi umat Islam.
Isra’ Mi‘raj terjadi pada masa yang sangat berat dalam kehidupan Rasulullah ﷺ, yang dikenal sebagai ‘Amul Ḥuzn (tahun kesedihan). Pada masa itu, beliau kehilangan dua sosok paling berharga: istri tercinta Khadijah r.a. dan paman pelindungnya, Abu Thalib. Penolakan dan tekanan dari kaum Quraisy semakin menyesakkan, bahkan dakwah beliau di Thaif berujung pada luka fisik dan batin. Dalam kondisi inilah, Allah SWT menghadirkan hiburan langit bagi Rasul-Nya.
Isra’: Perjalanan Malam yang Meneguhkan Hati
Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina, dalam satu malam. Allah SWT berfirman:
“Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isrā’: 1)
Perjalanan ini menegaskan keterikatan spiritual antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, sekaligus menunjukkan bahwa dakwah Islam adalah dakwah yang universal, melampaui batas geografis dan etnis.
Mi‘raj: Kenaikan Menuju Langit dan Perintah Shalat
Dari Masjidil Aqsha, Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanan Mi‘rāj, naik menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Dalam peristiwa inilah, Rasulullah ﷺ menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah SWT—sebuah ibadah yang kedudukannya begitu istimewa dibandingkan ibadah lainnya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia telah menegakkan agama.” (HR. Tirmidzi)
Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak lima puluh waktu, namun atas kasih sayang Allah dan atas saran Nabi Musa a.s., jumlah tersebut diringankan menjadi lima waktu dengan pahala lima puluh. Ini adalah bukti betapa Allah Maha Pengasih terhadap hamba-Nya.
Makna Isra’ Mi‘raj bagi Kehidupan Umat
Isra’ Mi‘raj mengajarkan kepada kita bahwa di balik kesulitan, selalu ada jalan keluar dan pertolongan Allah. Shalat yang diperintahkan dalam peristiwa ini menjadi sarana utama bagi seorang mukmin untuk “mi‘raj” setiap hari—menghadap Allah, mencurahkan keluh kesah, serta memperbaharui iman dan ketakwaan.
Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan rohani. Ia adalah cahaya bagi hati, penenang jiwa, dan penjaga moral dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)
Meneladani Spirit Isra’ Mi‘raj
Memperingati Isra’ Mi‘raj seharusnya tidak berhenti pada seremonial semata. Lebih dari itu, peristiwa ini mengajak kita untuk memperbaiki kualitas shalat, memperkuat keimanan, serta meneguhkan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup.
Semoga melalui peringatan Isra’ Mi‘raj, kita mampu menjadikan shalat sebagai poros kehidupan, sumber kekuatan dalam setiap langkah, dan jalan untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Sebab, sebagaimana Rasulullah ﷺ dimuliakan melalui perjalanan langit, seorang mukmin pun akan dimuliakan melalui shalat yang khusyuk dan penuh kesadaran.