H-25 Menjelang Ramadhan: Menyapu Hati, Menata Niat, Menjemput Ampunan

Ada jarak waktu dua puluh lima hari sebelum Ramadhan benar-benar mengetuk pintu. Jarak yang sering terasa singkat, namun sejatinya cukup panjang untuk sebuah persiapan batin. H-25 menjelang Ramadhan bukan sekadar hitungan kalender, melainkan undangan lembut dari Allah agar kita berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, dan bertanya dengan jujur: sudah sejauh mana hati ini siap menyambut bulan suci?

Ramadhan selalu datang membawa cahaya. Ia tidak pernah berubah—yang sering kali berubah adalah kesiapan kita. Ada yang menyambutnya dengan rindu, ada pula yang menerimanya dengan biasa saja, bahkan ada yang diam-diam merasa berat. Padahal Ramadhan adalah bulan di mana pintu-pintu langit dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Sebuah kesempatan agung yang mungkin tidak akan terulang untuk kita tahun depan.

 

Membersihkan Hati Sebelum Membersihkan Jadwal

Sering kali persiapan Ramadhan hanya berhenti pada hal-hal lahiriah: jadwal imsakiyah, menu sahur, target khatam Al-Qur’an, atau agenda buka bersama. Semua itu baik dan perlu. Namun, jauh lebih penting dari itu adalah membersihkan hati—tempat niat bersemayam.

H-25 ini adalah waktu terbaik untuk menyapu hati dari debu-debu lama: dendam yang belum selesai, iri yang masih bersemayam, ego yang enggan tunduk, serta dosa-dosa yang kita simpan rapat-rapat dalam ingatan. Ramadhan tidak akan terasa manis jika hati masih pahit.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi melihat hati dan amal kita. Maka sebelum Ramadhan tiba, mari bertanya: apakah hati ini masih keras saat mendengar ayat-ayat Allah? Apakah air mata masih enggan jatuh saat menyebut nama-Nya?

 

Menata Niat, Menghidupkan Harap

Ramadhan adalah bulan niat. Setiap ibadah di dalamnya dilipatgandakan nilainya, dan setiap niat baik dicatat sebagai pahala. Namun niat yang kuat tidak lahir secara instan. Ia perlu disemai.

Di H-25 ini, tanamkan kembali niat-niat terbaik:

  • Niat untuk berpuasa bukan sekadar menahan lapar, tapi menahan diri dari maksiat.
  • Niat membaca Al-Qur’an bukan sekadar menggugurkan target, tapi untuk mendengar suara Allah berbicara pada hati.
  • Niat bersedekah bukan karena berlebih, tapi karena ingin membersihkan jiwa.

Allah Maha Mengetahui isi hati. Bahkan niat yang belum sempat terwujud pun bisa bernilai pahala jika disiapkan dengan sungguh-sungguh.

 

Belajar Merindu Sebelum Kehilangan

Banyak di antara kita yang baru benar-benar merindukan Ramadhan ketika ia telah pergi. Padahal tidak ada jaminan usia akan mengantarkan kita ke Ramadhan berikutnya. Setiap H-25 menjelang Ramadhan sejatinya adalah pengingat sunyi tentang kefanaan hidup.

Coba bayangkan Ramadhan ini sebagai Ramadhan terakhir. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menghidupkan kesungguhan. Jika ini Ramadhan terakhir, ibadah seperti apa yang ingin kita persembahkan? Doa apa yang ingin kita panjatkan? Air mata mana yang ingin kita tumpahkan di hadapan Allah?

 

Menjemput Ramadhan dengan Taubat

Ramadhan adalah bulan ampunan, tetapi taubat seharusnya dimulai sebelum Ramadhan datang. H-25 ini adalah momentum untuk kembali—dengan segala luka dan dosa—kepada Allah yang Maha Menerima.

Taubat bukan tentang seberapa besar dosa kita, tetapi seberapa besar harapan kita kepada rahmat-Nya. Allah tidak pernah menutup pintu bagi hamba yang ingin pulang. Bahkan selangkah kecil menuju-Nya, akan dibalas dengan langkah yang lebih besar dari-Nya.

 

Ramadhan Tidak Menunggu, Tapi Kita yang Ditunggu

Ramadhan akan tetap datang, dengan atau tanpa kesiapan kita. Namun pertanyaannya: apakah kita datang kepada Ramadhan sebagai tamu yang siap, atau sebagai hamba yang lalai?

H-25 menjelang Ramadhan adalah hadiah waktu. Gunakan ia untuk menata hati, meluruskan niat, memperbanyak istighfar, dan menghidupkan rindu. Semoga saat Ramadhan tiba, ia tidak hanya singgah di kalender kita, tetapi benar-benar menetap di hati—mengubah kita menjadi hamba yang lebih dekat, lebih lembut, dan lebih taat kepada Allah.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan dalam keadaan iman yang utuh dan hati yang bersih. Aamiin.