
Menjelang Ramadhan, ada satu pemandangan yang hampir selalu berulang setiap tahun. Toko-toko ramai, daftar menu sahur dan berbuka mulai disusun, jadwal libur disesuaikan, bahkan lemari pakaian dipersiapkan sejak jauh hari. Namun ironisnya, di tengah kesibukan fisik itu, banyak dari kita lupa satu hal yang paling utama: persiapan ruhani.
Padahal Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan dan tidur. Ia adalah madrasah keimanan, momentum penyucian jiwa, dan kesempatan emas untuk kembali mendekat kepada Allah. Jika jasad disiapkan, tetapi hati dibiarkan kosong, Ramadhan bisa berlalu tanpa meninggalkan bekas yang berarti.
Sibuk Fisik, Lupa Ruhani
Salah satu kesalahan paling umum dalam menyambut Ramadhan adalah memusatkan perhatian hanya pada hal-hal lahiriah. Kita sibuk menghitung hari menuju puasa, namun jarang menghitung sejauh mana kesiapan iman. Kita antusias menunggu hilal di langit, tetapi lupa menengok kondisi hati sendiri.
Akibatnya, Ramadhan dijalani secara mekanis: puasa sekadar menahan lapar, shalat tarawih terasa berat, tilawah hanya formalitas, dan dzikir menjadi aktivitas sambilan. Hati belum siap menerima cahaya Ramadhan karena tidak dibersihkan sebelumnya.
Allah mengingatkan bahwa ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi soal kondisi hati:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Ramadhan yang berkah tidak lahir dari kalender, tetapi dari jiwa yang siap menerima tarbiyah Ilahi.
Latihan Ibadah Sebelum Ramadhan: Memanaskan Mesin Ruhani
Seperti atlet yang tidak langsung bertanding tanpa latihan, seorang mukmin pun tidak seharusnya memasuki Ramadhan tanpa persiapan ibadah. Beberapa amalan berikut menjadi latihan ruhani yang sangat dianjurkan:
1. Puasa Sunnah
Puasa Senin-Kamis atau puasa Ayyamul Bidh melatih kesabaran dan pengendalian diri. Tubuh dan jiwa mulai terbiasa dengan ritme puasa, sehingga Ramadhan tidak terasa sebagai beban, tetapi sebagai kebutuhan ruhani.
Puasa sunnah juga melembutkan hati dan memperkuat niat, bahwa puasa bukan sekadar kewajiban, melainkan bentuk cinta kepada Allah.
2. Tilawah Al-Qur’an
Ramadhan dikenal sebagai bulan Al-Qur’an. Namun hubungan dengan Al-Qur’an seharusnya sudah dibangun sebelum Ramadhan datang. Membiasakan tilawah harian, meski sedikit, akan membuat hati lebih siap menyambut ayat-ayat Allah saat Ramadhan.
Al-Qur’an bukan hanya untuk dikhatamkan, tetapi untuk dihadirkan dalam kehidupan.
3. Dzikir dan Istighfar
Memperbanyak dzikir dan istighfar sebelum Ramadhan adalah proses membersihkan hati dari debu dosa. Hati yang penuh maksiat akan sulit merasakan nikmatnya ibadah.
Dengan dzikir, jiwa dilatih untuk selalu sadar akan kehadiran Allah. Dengan istighfar, kita merendahkan diri dan mengakui keterbatasan sebagai hamba.
Meneladani Persiapan Rasulullah ﷺ Menjelang Ramadhan
Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam menyambut Ramadhan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, hingga para sahabat mengira beliau hampir berpuasa sebulan penuh.
Hal ini menunjukkan bahwa Ramadhan tidak disambut secara tiba-tiba, tetapi dengan persiapan ibadah yang serius. Rasulullah ﷺ memanaskan ruhani, menguatkan koneksi dengan Allah, dan melatih umatnya untuk tidak kaget menghadapi Ramadhan.
Beliau juga mengajarkan doa penuh harap:
“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan.”
Doa ini bukan sekadar permintaan umur panjang, tetapi permohonan agar diberi kesiapan iman untuk menjalani Ramadhan dengan maksimal.
Menyiapkan Hati Sebelum Hilal Terlihat
Menunggu hilal adalah sunnah, tetapi menyiapkan hati adalah keharusan. Ramadhan akan datang kepada siapa pun—namun hanya mereka yang bersiap secara ruhani yang akan pulang membawa takwa.
Mari jadikan hari-hari sebelum Ramadhan sebagai masa pemanasan jiwa. Kurangi kelalaian, perbanyak ibadah, dan luruskan niat. Agar saat hilal benar-benar terlihat, hati kita sudah lebih dulu bersujud dalam kerinduan.
Karena sejatinya, Ramadhan bukan soal kapan ia datang, tetapi siapa yang siap menyambutnya.