

Baru 10 hari berada dalam pelukan ayah dan ibunya, tubuh kecil Ubaidillah mulai menguning. Perutnya perlahan membesar. Tak ada yang menyangka, itu menjadi awal perjuangan panjang Ubai melawan penyakit langka yang menyerang empedu dan hatinya.

Ubaidillah, yang akrab dipanggil Ubai, lahir sehat dan normal. Kehadirannya menjadi kebahagiaan besar bagi Pak Marwanto dan Bu Wulan setelah penantian mereka untuk memiliki buah hati.
Namun kebahagiaan itu berubah menjadi kekhawatiran ketika Ubai baru berusia 10 hari.
Tubuhnya mulai menguning. Kondisinya tak kunjung membaik dan perutnya perlahan membesar. Ubai yang masih begitu kecil pun harus dibawa menempuh perjalanan sekitar 2 jam menuju rumah sakit daerah di Teluk Kuantan.
Di sana, Ubai menjalani fototerapi, pemeriksaan laboratorium, hingga USG abdomen. Karena membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut, keluarga kembali membawanya menuju rumah sakit di Pekanbaru dengan perjalanan sekitar 6 jam.
Dari pemeriksaan itulah keluarga mengetahui bahwa Ubai mengalami atresia bilier, penyakit langka yang menyebabkan kerusakan pada saluran empedu dan hatinya.

Sejak saat itu, hari-hari keluarga berubah.
Alih-alih melihat Ubai tumbuh dan bermain seperti anak-anak seusianya, ayah dan ibunya harus berkali-kali mendampinginya menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
Sudah sekitar dua tahun Ubai berjuang. Namun operasi yang dibutuhkannya belum dapat dilakukan karena keterbatasan biaya keluarga.
Sementara waktu terus berjalan, kondisi hatinya semakin memburuk. Berdasarkan informasi yang disampaikan keluarga, kerusakan hati Ubai telah mencapai sekitar 80% dan berada pada stadium akhir. Kondisinya juga telah disertai komplikasi yang membahayakan organ-organ vitalnya.
Ubai bahkan pernah mengalami pendarahan dari hidung dan telinga.
Kini, salah satu harapan yang diperjuangkan keluarga adalah agar Ubai dapat menjalani transplantasi hati.
[image]
Namun di tengah kebutuhan pengobatan yang begitu besar, keadaan ekonomi keluarga sangat terbatas.
Berbagai upaya sudah dilakukan. Harta benda keluarga telah dijual agar Ubai dapat dibawa berobat hingga ke rumah sakit rujukan di Jakarta.
Pak Marwanto kini bekerja sebagai driver ojek. Ia terus mencari nafkah dan mengambil pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus pengobatan putranya.
Tetapi penghasilannya belum mampu mengejar besarnya kebutuhan yang harus dipenuhi.
Ada biaya perawatan yang tidak sepenuhnya ditanggung BPJS, kebutuhan obat-obatan, biaya hidup selama pengobatan, hingga kebutuhan untuk mempersiapkan transplantasi hati Ubai.
Di satu sisi, keluarga ingin secepat mungkin membawa Ubai mendapatkan penanganan yang dibutuhkannya. Di sisi lain, mereka harus berhadapan dengan biaya yang mencapai ratusan juta rupiah.

Pak Marwanto dan Bu Wulan masih terus berusaha.
Mereka hanya ingin anak yang selama dua tahun ini mereka dampingi melewati sakit memiliki kesempatan untuk melanjutkan hidupnya.
Kini perjuangan itu terasa terlalu berat jika harus mereka tanggung sendiri.
#OrangBaik, mari temani perjuangan Ubaidillah mendapatkan pengobatan dan transplantasi hati yang dibutuhkannya.
Sedikit demi sedikit bantuan yang terkumpul diharapkan dapat membantu meringankan biaya pengobatan, perawatan, obat-obatan, serta kebutuhan lain selama perjuangan Ubai menjalani pengobatan.
Yuk, bantu Ubai melanjutkan perjuangannya.
Klik Donasi Sekarang dan sisihkan rezeki terbaik untuk Ubaidillah.
Jika belum bisa berdonasi, bantu sebarkan campaign ini agar semakin banyak orang mengetahui perjuangan Ubai dan ikut membersamai ikhtiarnya.
![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik