
Pada 11 Januari 2026, suasana Panti Asuhan Domyadhu, Bekasi, terasa berbeda dari biasanya. Bukan hanya dipenuhi canda dan tawa, tetapi juga oleh semangat belajar, berkarya, dan menumbuhkan harapan. Melalui kegiatan membuat dekorasi cermin menggunakan clay, anak-anak panti diajak untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus menanamkan nilai-nilai kebaikan yang sejalan dengan ajaran Islam.
Kegiatan diawali dengan sesi games edukatif yang dirancang untuk membangun kebersamaan dan keakraban. Permainan-permainan sederhana menjadi sarana melatih kerja sama, kejujuran, dan sportivitas. Anak-anak belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari menang atau kalah, tetapi dari proses saling mendukung dan menikmati kebersamaan. Nilai ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ bahwa seorang mukmin bagi mukmin lainnya ibarat bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.
Setelah suasana mencair, kegiatan dilanjutkan dengan sesi utama pembuatan dekorasi cermin. Anak-anak mulai membentuk clay dengan penuh antusias. Tangan-tangan kecil itu merangkai bentuk, memilih warna, dan menghias cermin sesuai imajinasi masing-masing. Dalam Islam, kreativitas adalah bagian dari fitrah manusia. Allah ﷻ menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk dan membekalinya dengan akal serta kemampuan berkarya. Proses menghias cermin ini menjadi media untuk mengasah kesabaran, ketelitian, dan rasa tanggung jawab terhadap hasil kerja sendiri.

Cermin yang dihias bukan sekadar benda. Ia menjadi simbol muhasabah, mengingatkan bahwa setiap insan perlu sesekali bercermin—bukan hanya pada rupa, tetapi juga pada hati dan akhlak. Anak-anak diajak memahami bahwa sebagaimana kita memperindah cermin dengan hiasan terbaik, demikian pula seharusnya kita memperindah diri dengan akhlak mulia, kejujuran, dan sikap saling menghormati.
Usai sesi kreativitas, kegiatan berlanjut pada sesi mengobrol dan berbagi. Anak-anak diberi ruang untuk menceritakan makna dari karya yang mereka buat. Pada kesempatan ini, disampaikan pula edukasi ringan tentang pentingnya merawat barang, menghargai proses, serta menjadikan keterampilan sebagai jalan kebaikan. Diselipkan pesan bahwa keterampilan tangan, jika diasah dengan niat yang baik, dapat menjadi sarana kemandirian dan kebermanfaatan bagi sesama—sebagaimana Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang memberi manfaat.
Sebagaimana firman Allah ﷻ:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)
Sebagai penutup, kegiatan diakhiri dengan dokumentasi bersama dan penyerahan buku kepada anak-anak panti. Buku-buku tersebut diharapkan menjadi teman dalam perjalanan ilmu, karena dalam Islam, menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang hayat. Buku bukan sekadar kumpulan halaman, melainkan pintu menuju pemahaman, hikmah, dan masa depan yang lebih cerah.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa dakwah dan pendidikan dapat hadir dalam bentuk yang sederhana namun bermakna. Melalui clay, cermin, permainan, dan obrolan hangat, anak-anak Panti Asuhan Domyadhu diajak untuk mengenal potensi diri, menumbuhkan rasa percaya diri, serta menanamkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Semoga setiap karya yang tercipta hari itu menjadi saksi bahwa di tangan anak-anak ini, masa depan penuh harapan sedang dibentuk—perlahan, dengan niat yang tulus dan hati yang bersih.